Pendekatan Kualitatif yang Mendalam
Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, penelitian ini menempatkan peneliti sebagai instrumen kunci. Lokasi riset dilakukan di SMKN 3 Baleendah dengan subjek siswa kelas X MPLB 2 sebanyak 50 orang, di mana tiga siswa dipilih sebagai sampel melalui teknik purposive sampling.
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan fokus pada pemahaman mendalam terhadap interaksi sosial, kemandirian belajar, serta hubungan antara apresiasi budaya dan praktik vokal siswa.

Integrasi Teori dan Praktik
Penelitian ini berlandaskan teori konstruktivisme dari Jean Piaget dan Lev Vygotsky, serta taksonomi pembelajaran dari Benjamin Bloom dan Dave yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dalam implementasinya, model flipped classroom dibagi ke dalam tiga fase utama:
- Out-Class: siswa mempelajari materi melalui e-learning dan video pembelajaran lagu daerah.
- In-Class: siswa melakukan diskusi, analisis, hingga praktik vokal secara kolaboratif.
- After-Class: refleksi dan evaluasi hasil pembelajaran.
Pendekatan ini memungkinkan siswa tidak hanya memahami lagu secara teoritis, tetapi juga menghayati nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Dampak Nyata pada Pengalaman Siswa
Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada pengalaman belajar siswa. Kemandirian belajar tumbuh sejak fase out-class, sementara interaksi sosial dan kolaborasi semakin kuat saat in-class.
Tak hanya itu, siswa juga menunjukkan peningkatan kepercayaan diri dalam praktik vokal, serta pemahaman yang lebih mendalam terhadap nilai-nilai kearifan lokal. Proses refleksi yang dilakukan setelah pembelajaran turut memperkuat kesadaran pentingnya pelestarian budaya melalui lagu daerah.






